Pengen Libur Lebaran Kalian Makin Seru? Jangan Lewatkan Tradisi Unik Lebaran Di Beberapa Daerah Di Indonesia Ini!

Pengen libur Lebaran Kalian Makin Seru? Jangan lewatkan tradisi unik lebaran di beberapa daerah di Indonesia ini ya! Karena beberapa menarik untuk dilihat lho.

Ya, lebaran adalah yang ditunggu-tunggu umat Islam di dunia, dan juga yang ada di Indonesia. Mudik sudah pasti merupakan aktivitas yang tidak akan ketinggalan.

Misalnya sepanjang jalur pantura pastilah di penuhi oleh para pemudik. Kegiatan seperti silaturahmi, berziarah, menikmati ketupat dan opor ayam sebagai hidangan sudah ada di depan mata.

Namun ketika Lebaran tiba, yang terjadi di Indonesia tidak cuma itu saja. mulai dari Sabang hingga Merauke ada banyak tradisi unik lebaran yang mungkin hanya diadakan pada suatu daerah saja.

Wajar saja sih, Indonesia kan memang memiliki banyak suku adat dan budaya. Nah, mungkin lebaran kali ini kalian juga sempat berkunjung untuk melihat salah satu dari beberapa trandisi unik Lebaran yang ada di Indonesia ini.

Baca juga Tips Mudik Asik Ala Traveler! Sekarang Aktifitas Mudik Kalian Enggak Bakal Ngebosenin!

Jangan Lewatkan Tradisi Unik Lebaran Di Indonesia Ini deh

Penasaran? Baca sampai selesai deh :)

1. Bum! Bum! Ini Bukan Perang, Tetapi Keseruan Festival Meriam Karbit di Pontianak

Menyambut Lebaran yang bahagia, warga Pontianak mengadakan suatu festival yang menarik. Namanya adalah festival meriam karbit. Biasanya festival ini dilakukan menjelang malam takbiran.

Bum! Bum! Ketika waktunya tiba, kira – kira ratusan meriam yang sudah disediakan akan disulut bersama di Sungai kapuas. Suasana akan terdengar begitu ramai.

Bahkan mungkin seperti sedang perang. Namun tenang saja, itu bukan perang, tetapi bunyi dari meriam karbit yang terbuat dari bambu berbagai ukuran.

Tradisi unik lebaran di Indonesia, Festival Meriam Karbit Pontianak
Tradisi unik lebaran di Indonesia, Festival Meriam Karbit Pontianak..

Festival meriam karbit digelar bukan hanya sebagai tradisi unik lebaran di Pontianak, tetapi juga untuk mengenang pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurahman Alkadri.

Konon dia punya kebiasaan mengusir kuntilanak dengan meriam. Sekarang ini Pemerintah Kota Pontianak malah mengemas festival tersebut secara unik.

Mulai dari Pelabuhan Sangie Pontianak menuju kawasan pinggiran Gang Garuda di Jalan Imam Bonjol, yang merupakan lokasi diadakannya penyulutan meriam. Datang ya! Biar makin rame!

2. Datanglah Ke Yogyakarta, Dan Ikuti Grebeg Syawal, Dimana Kalian Bisa Beramai – Ramai Berebut Gunungan!

Serunya Grebeg Syawal di Yogyakarta.
Serunya Grebeg Syawal di Yogyakarta.

Yogyakarta, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa di Indonesia tentu tidak ketinggalan dengan yang namanya tradisi unik lebaran dong? Iya di Yogyakarta ada Keraton Yogyakarta yang biasa mengadakan pesta Grebeg Syawal pada tanggal 1 Syawal.

BACA JUGA :  Boneka Barbie Ini Suka Traveling, Dia Bahkan Punya Akun Instagram! Perkenalkan Si Socalitybarbie!

Perayaan Grebeg Syawal ini biasanya dilangsungkan dengan cara mengarak Gunungan Kakung dan Gunungan Putri yang disusun dari sayuran dan berbagai hasil bumi yang dimaksudkan sebagai sedekah Sultan pada rakyatnya.

Acara ini memang selalu ramai, karena masyarakat yang datang ke acara Grebeg Syawal ini boleh berebut isi yang ada di gunungan. Jadinya, setelah aba – aba untuk berebut gunungan diberikan, gunungan yang ada pasti deh langsung diserbu puluhan orang.

Memang dipercaya kalau bagian hasil bumi yang ada di Gunungan ini bisa membawa berkah dan kesejahteraan bagi yang mendapatkannya. Pantas saja Grebeg Syawal ini begitu meriah.

Karena semuanya begitu antusias untuk meramaikannya. Jadi, kalian yang kebetulan merayakan Lebaran di Yogyakarta jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti tradisi lebaran yang unik ini ya!

3. Indahnya Berbagi Ketika Lebaran Dengan Tradisi Meugang Di Aceh

Selain bertemu dengan keluarga di Kampung Halaman, bermaaf maafan, kegiatan yang paling menyenangkan selama lebaran adalah berbagi. Menariknya, Aceh si Negeri Serambi Mekah mempunyai tradisi unik menjelang lebaran yang dikenal dengan nama Meugang.

Tradisi Meugang di Aceh
Tradisi Meugang di Aceh.

Tradisi ini adalah kegiatan memasak daging yang kemudian hasil masakannya sebagian dibagikan kepada kaum dhuafa dan juga dimakan bersama-sema keluarga. Meugang ini juga biasa dilakukan secara berkelompok dengan menyembelih sapi atau kambing.

Umumnya pada suatu perkampungan, semua masyarakat akan berkumpul di masjid untuk memasak,dan lalu memakannya bersama. Tradisi Meugang ini juga biasa dilakukan di masjid – masjid, baik di kota kecil maupun kota besar.

Selain Lebaran Idul Fitri, Tradisi Unik Lebaran Meugang kadang juga diadakan pada Ramadan dan Idul Adha atau hari raya kurban. Jadi, tertarik untuk pergi ke Aceh pas lebaran nih?

4. Sementara Itu Kalau Di Bali Ada Yang Namanya Tradisi Ngejot Untuk Berbagi Selama Lebaran

Ngejot ini adalah tradisi unik lebaran di Indonesia dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Tradisi Ngejot dilaksanakan oleh masyarakat Hindu dan Islam.

Bagi umat Hindu, tradisi ini digelar untuk Hari Raya Galungan, Nyepi dan Hari Raya Kuningan. Dan bagi umat Islam, tradisi tersebut dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi Unik Lebaran, Ngejot.
Tradisi Unik Lebaran, Ngejot.

Umat Islam di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali melestarikan tradisi ini dengan memberikan makanan dan minuman kepada tetangga sekitar rumah begitu juga dengan umat Hindu. Makanan yang diberi kepada tetangga sudah dalam bentuk siap saji dan kue serta buah-buahan.

Umat Hindu memberikan makanan berupa urap, lawar, daging babi, dan umat Islam memberikan makanan khas Lebaran seperti opor ayam.Tradisi Ngejot sebagai simbol kerukunan antarumat beragama sehingga tetap mesra dan harmonis.

Tradisi ini juga sebagai simbol kemesraan dan tali persaudaraan antara Hindu dan Islam di tanah Dewata. Tradisi ngejot bagi pemeluk agama Islam di Bali masih terjaga hingga saat ini, khususnya di daerah pedesaan.

5. Tradisi Lebaran Unik Ronjok Sayak Bisa Kalian Temukan Di Bengkulu!

Tradisi Bakar Gunung Api Atau Ronjok Sayak.
Tradisi Bakar Gunung Api Atau Ronjok Sayak.

Sejak dahulu, api dipercaya menghubungkan manusia dengan leluhur. Dan inilah yang dipercaya warga Bengkulu, hingga melahirkan tradisi Ronjok Sayak atau juga dikenal sebagai Bakar Gunung Api. Konon, tradisi Ronjok Sayak sudah dilakukan Suku Serawai sejak ratusan tahun lalu.

BACA JUGA :  Pantai Porok, Pantai dengan Bukit-bukit Karst dan Kebun Melon

Tradisi Ronjok Sayak bisa dianggap sebagai tradisi unik lebaran dari Indonesia. Tradisi ini dilakukan pada malam takbiran di depan rumah setiap warga.

Ronjok Sayak biasanya menggunakan media batok kelapa yang disusun seperti tusuk sate hingga menjulang tinggi. Pembakaran batok itu dilakukan warga kampung secara serentak, usai melaksanakan Sholat Isya.

6. Unik, Tradisi Lebaran Perang Topat Atau Perang Ketupat Di Lombok Ini Ternyata Malah Mencerminkan Kerukunan Loh!

Tradisi unik lebaran di Lombok, Perang Topat
Tradisi unik lebaran di Lombok, Perang Topat.

Mungkin yang namanya perang, tapi tanpa rasa benci hanya ada di Perang Topat alias perang ketupat yang ada di Lombok ini. Iya, meskipun namanya perang ini adalah tradisi unik lebaran yang ada di Lombok.

Tradisi lebaran di Lombok ini melambangkan rasa syukur serta kerukunan umat beragama yang ada di Lombok. Ritual Perang Topat yang unik ini biasanya dilakukan enam hari setelah Lebaran.

Dalam Perang Topat juga melibatkan umat Islam dan Hindu yang ada di Lombok. Prosesi ritual ini awalnya dilakukan dengan mengarak beberapa sesaji berupa hasil bumi.

Setelah beberapa saat kemudian baru dilanjutkan dengan sebuah selebrasi. Yaitu saling melempar ketupat antara suku Sasak dan Bali. Biasanya tradisi unik Lebaran ini dilakukan di sebuah pura, yaitu Pura Lingsar di Lombok Barat.

7. Festival Tumbilotohe Di Gorontalo Ini Ikut Meramaikan Syahdunya Suasana Lebaran Kalian Disana

Diadakannya Festival Tumbilotohe ini berarti adalah tanda akan berakhirnya bulan suci ramadhan di Gorontalo. Tradisi unik lebaran ini memang biasanya dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dimulai dengan pemasangan lampu berbahan bakar minyak tanah di mulai dari maghrib hingga menjelang subuh. Konon, tradisi yang kemudian berkembang menjadi Festival Tumbilotohe ini sudah berlangsung sejak abad XV.

Pada masa itu lampu penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Alat penerangan ini di sebut wango – wango.

Festival Tumbilotohe
Festival Tumbilotohe.

Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar.

Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini. Bahkan untuk lebih menyemarakkan tradisi ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik.

Tumbilotohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii….. Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai.

Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat. Malam tumbilotohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di Gorontalo.

Apalagi kalo diselenggarakan lomba antar kampung atau kecamatan, Kalau ada foto udara, Kalian dapat menyaksikan wilayah gorontalo terang bercahaya.

8. Pukul Sapu (Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu) Di Maluku Tengah Mungkin Agak Ngeri, Tetapi Inilah Kearifan Lokal, Tradisi Menyambut Lebaran Di Maluku Tengah

Tradisi Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu Di Maluku.
Tradisi Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu Di Maluku.

Setiap hari ketujuh Lebaran, sekumpulan warga Desa Morella dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, akan selalu berkumpul di halaman Masjid Besar.

Bukan karena apa, tetapi mereka akan menyaksikan tradisi Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu, yang dilakukan perwakilan kelompok pria dari masing-masing desa. Meski kelihatan dilakukan bersama, tradisi unik lebaran ini memiliki makna berbeda di antara kedua warga desa itu.

BACA JUGA :  Review : Box Capsule Hostel Singapura

Pada acara Pukul Sapu ini, setiap regu yang beranggotakan sejumlah pria saling menyabetkan lidi enau ke bagian badan lawannya. Sabetan lidi itu mampu membuat kulit sobek hingga berdarah.

Atraksi sabet lidi itu berlangsung sekitar 30 menit. Warga di kedua desa memiliki cara berbeda untuk menyembuhkan luka. Di Morella, luka disembuhkan dengan getah jarak.

Sementara di Mamala, luka disembuhkan dengan minyak tasala atau minyak kelapa yang dimasak dan dicampur dengan pala dan cengkeh. Wah, menarik juga ya tradisi lebaran dari Maluku Tengah ini.

9. Pemudik Di Riau Disambut Dengan Tradisi Unik Lebaran Bernama Batobo

Lebaran itu pasti selalu identik dengan mudik, atau kegiatan masyarakat Indonesia pulang ke kampung halaman menjelang lebaran. Mudik ini untuk orang Riau dianggap sebagai sebuah momen penting dan khusus yang layak mendapat sambutan khususu pula.

Ilustrasi Tradisi Batobo
Ilustrasi Tradisi Batobo.

Ini juga yang menjadi alasan lahirnya sebuah tradisi unik lebaran bernama Batobo. Bagi warga Kampar, Riau, tradisi Batobo bahkan masih dilestarikan hingga sekarang.

Karena itu apabila ada rombongan pemudik yang datang, akan ada upacara penyambutan meriah dan diarak menggunakan rebana melalui pematang sawah hinggamenuju tempat berbuka puasa bersama. Unik ya?

Pada tradisi ini juga biasanya menjadi momen saling melepas rindu antara pemudik dengan keluarga yang ada di kampung halaman. Acara ini juga ditujukan untuk mempererat silaturahmi.

Pada malam harinya usai acara Batobo diadakan, biasanya masih dilanjutkan dengan pengajian dan lomba membaca Alquran. Hadiah pada lomba biasanya bervariasi, tergantung sumbangan dari para pemudik yang datang.

Bila jumlahnya besar, hadiah lomba baca Alquran itu bisa berupa seekor kerbau. Mau ikutan ah! Lumayan banget kan bisa dapet kerbau seekor, mayan buat tambah angpau lebaran!

10 Di Sulawesi Utara, Kalian Bisa Makan Nasi Jaha Bersama – Sama Dalam Tradisi Unik Lebaran Yang Dinamakan Binarundak!

Tradisi unik lebaran Binarundak.
Tradisi unik lebaran Binarundak.

Selain identik dengan mudik, dan aktifitas saling memaafkan, lebaran di Indonesia juga kental dengan berbagai macam budaya unik. Salah satunya adalah tradisi binarundak yang biasa diadakan di Motoboi Besar, Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Binarundak ini biasanya diadakan oleh perantau asal Motoboi Besar yang sedang pulang kampung beserta masyarakat setempat pada tiga hari setelah lebaran.

Binarundak ini berupa kegiatan membakar nasi jaha bersama-sama, dan kemudian memakannya bersama – sama. Nasi Jaha ini merupakan nasi khas Sulawesi Utara, nasi berbahan dasar ketan dan santan yang disertai bumbu.

Nasi lalu dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu untuk dipanggang atau dibakar. Bambu-bambu nasi jaha diletakan berjajar di atas serabut kelapa atau ganofu yang dibakar. Tempat pelakasanaannya terkadang di tepi jalan depan rumah atau di lapangan terbuka.

Tradisi binarundak in terinsipirasi dari tradisi makan ketupat bersama di daerah sekitar Motoboi Besar, seperti di Gorontalo dan Minahasa. Dikarenakan ketupat sudah menjadi makanan yang banyak dikenal, maka dipilih Nasi Jaha yang merupakan nasi khas Sulawesi Utara.

Nah, siapa mau lebaran disana sekalian mencoba rasa Nasi Jaha? Yuk! Main ke Sulawesi Utara dan melihat tradisi unik lebaran yang ada di tempat ini!

About the author

Temukan inspirasi dan informasi seputar traveling dan perjalanan di LiburMulu.com. Secara rutin LiburMulu.com akan berbagi informasi tetang perjalanan liburan, cerita traveling, review hotel. review destinasi, contoh itinerary, dan tips - tips perjalanan dan traveling baik di Indonesia atau di Luar Negeri. Jadi… Kapan Kita Kemana Kawan?