Tarik Nafas Pelan – Pelan… Karena Foto Para Pemenang Kontes Foto National Geographic Tahun 2015 Ini Akan Membuat Kalian Tercengang!

LiburMulu.Com – Para pemenang dari lomba foto National Geographic Traveler tahunan ke 27 baru saja diumumkan. Pemenang hadiah pertama adalah Anuar Patjane Floriuk dari Tehuacán, Meksiko. Dia akan akan menerima hadiah berupa sebuah ekspedisi foto delapan hari untuk dua orang ke Kosta Rika dan Terusan Panama.

Anuar Patjane Floriuk memenangkan ini karena foto para penyelam yang berenang di dekat paus raksasa di lepas pantai barat Meksiko. Dan inilah foto – foto para pemenang lomba foto National Geographic Traveler tahunan ke 27 dari berbagak kategori. Foto – foto disini dikumpulkan dari empat kategori : Outdoor Scenes, Sense of Place, and Spontaneous Moments.

Keterangan tiap foto asli dari fotografernya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa merubah maknanya. Sekarang… Tarik nafas pelan – pelan… Karena foto para pemenang lomba foto National Geographic Traveler tahun 2015 ini akan membuat kalian tercengang!!

1. Menyelam dengan ikan paus humpback dan bayi barunya saat mereka berenang di sekitar Roca Partida Island, di Revillagigedo, Meksiko.

Diving with a humpback whale and her new born calf while they cruise around Roca Partida Island, in Revillagigedo, Mexico. © Anuar Patjane / National Geographic Traveler Photo Contest

1. Diving with a humpback whale and her new born calf while they cru

2. Sebuah tempat kerja penghancur batu yang penuh dengan debu dan pasir. Tiga pekerjanya sedang melngamati melalui kaca jendela.

A gravel crushing workplace remains full of dust and sand. Three gravel workmen are looking through the window glass. © Faisal Azim / National Geographic Traveler Photo Contest

(Baca Juga : Foto – Foto San Fransisco Yang Membuat Kalian Ingin Segera Liburan Kesana!)

2. A gravel crushing workplace remains full of dust and sand. Three

3. Camel Ardah, seperti itulah sebutannya di Oman, adalah salah satu perlombaan unta balap tradisional antara dua unta dikendalikan oleh pengendaranya. Unta tercepat adalah yang kalah, sehingga mereka harus berjalan pada tingkat kecepatan yang sama di jalur yang sama.

Camel Ardah, as it called in Oman, is one of the traditional styles of camel racing between two camels controlled by expert riders. The faster camel is the loser, so they must be running at the same speed level in the same track. © Ahmed Al Toqi / National Geographic Traveler Photo Contest

3. Camel Ardah, as it called in Oman, is one of the traditional styl

4. Malam sebelum kembali ke Windhoek, kami menghabiskan beberapa jam di Deadveli di Namibia. Cahaya Bulan ketika itu cukup terang untuk menerangi bukit pasir di kejauhan, tapi langit masih cukup gelap untuk melihat dengan jelas gugusan Bima Sakti dan awan Magellan. Deadveli artinya “rawa yang mati” Pohon-pohon Camelthorn diyakini berusia sekitar 900 tahun, tetapi belum membusuk karena lingkungan sekitarnya yang sangat kering.

The night before returning to Windhoek, we spent several hours at Deadveli in Namibia. The moon was bright enough to illuminate the sand dunes in the distance, but the skies were still dark enough to clearly see the milky way and magellanic clouds. Deadveli means “dead marsh.” The camelthorn trees are believed to be about 900 years old, but have not decomposed because the environment is so dry. © Beth McCarley / National Geographic Traveler Photo Contest

4. The night before returning to Windhoek, we spent several hours at

5. Dua anak laki-laki mencoba untuk menangkap bebek di dekat air terjun.

Two boys are trying to catch a duck near a waterfall. © Sarah Wouters / National Geographic Traveler Photo Contest

(Baca Juga : Melihat Salju Musim Semi Jepang, Di Tateyama Kurobe Alpine Route)

5. Two boys are trying to catch a duck near a waterfall.

6. Kushti adalah gulat tradisional ala India. Mereka hanya mengenakan sebuah cawat (‘langotª), pegulat atau “Pelwhansª masuk lubang terbuat dari tanah liat, yang dicampur dengan garam, lemon dan ghee (mentega). Pada akhir latihan, pegulat beristirahat bersandar pada dinding arena meliputi kepala dan tubuh mereka dengan tanah yang menyerap keringat apapun dan menghindari terkena flu. Upacara relaksasi ini dilengkapi dengan pijat untuk menenangkan otot-otot yang lelah dan menunjukkan sikap saling menghormati.

Kushti is the traditional form of Indian wrestling. Wearing only a well-adjusted loincloth (´langotª), wrestlers or “Pelwhansª enter a pit made of clay, often mixed with salt, lemon and ghee (clarified butter). At the end of a workout, wrestlers rest against the walls of the arena covering their heads and bodies with earth to soak up any perspiration and avoid catching cold. This relaxation ceremony is completed with massages to soothe tired muscles and demonstrate mutual respect. © Alain Schroeder / National Geographic Traveler Photo Contest

6. Kushti is the traditional form of Indian wrestling

7. Malam sebelum foto ini, kami mencoba sepanjang hari untuk mendapatkan foto yang baik dari Badak Putih langka. Bersembunyi melalui rumput dengan hati-hati dan berusaha untuk tetap berada pada jarak aman 30 kaki, ternyata tidak memberikan foto yang saya harapkan. Namun, di pagi hari, aku bangun dengan tiga badak merumput di depan saya.

The night before this photo, we tried all day to get a good photo of the endangered white rhino. Skulking through the grass carefully trying to stay 30 feet away to be safe, didn’t provide me the photo I was hoping for. In the morning however, I woke up to all three rhinos grazing in front of me. © Stefane Berube / National Geographic Traveler Photo Contest  

7. The night before this photo, we tried all day to get a good photo

8. Sebuah sauna pada ketingginan 2.800 meter, di jantung Dolomites. Monte Lagazuoi, Cortina, timur Pegunungan Alpen Italia.

A sauna at 2,800 meters high, in the heart of Dolomites. Monte Lagazuoi, Cortina, eastern Italian Alps. © Stefano Zardini / National Geographic Traveler Photo Contest

8. A sauna at 2,800 meters high, in the heart of Dolomites. Monte La

9. Menyabit rumput secara tradisional di Polandia. Banyak orang terus menggunakan sabit dan garpu rumput untuk memotong dan merapikan jerami.

Traditional haymaking in Poland. Many people continue to use the scythe and pitchfork to cut and sort the hay. © Bart Omiej Jurecki / National Geographic Traveler Photo Contest

9. Traditional haymaking in Poland. Many people continue to use the

(Baca Juga : 7 Destinasi Nostalgic, Historic, Dan Fotogenik Di Pulau Jawa!)

10. Pohon yang membeku di Desa Pestera di Rumania.

White frost over Pestera village in Romania. © Eduard Gutescu / National Geographic Traveler Photo Contest

10. White frost over Pestera village in Romania.

Sumber : http://travel.nationalgeographic.com/photo-contest-2015/

About the author

Temukan inspirasi dan informasi seputar traveling dan perjalanan di LiburMulu.com. Secara rutin LiburMulu.com akan berbagi informasi tetang perjalanan liburan, cerita traveling, review hotel. review destinasi, contoh itinerary, dan tips - tips perjalanan dan traveling baik di Indonesia atau di Luar Negeri. Jadi… Kapan Kita Kemana Kawan?
%d bloggers like this: