Gua Jomblang, Hanya Untuk Para Petualang!

LiburMulu.com Satu pertanyaan sebelum melanjutkan membaca tulisan ini lebih jauh. Kira-kira, apa yang akan kalian rasakan ketika baru pertama kali melakukan sesuatu? Saya tebak, minimal pasti akan ada satu dari beberapa perasaan seperti ini; Berdebar – debar, penasaran, atau malah ketakutan.

Tenang saja, itu adalah hal wajar untuk manusia. Saya pun juga begitu, ketika saya akan merasakan untuk pertama kalinya melakukan yang namanya caving. Iya, caving beneran lho ini, yang konon katanya agak ekstrim!

Pun kalau saja rencana caving ekstreme di Gua Ngerong yang berada di Tuban kemarin tidak gagal, caving kali ini adalah yang kedua. Hati saya berdebar-debar, ketika aktivitas caving akan saya lakukan. Saya tidak mau mundur, saya akan tetap mencobanya, namun akan berusaha menguatkan hati, meskipun dengan rasa sedikit “ndredeg” tidak kunjung pergi sejak dari hotel tempat saya menginap di Prawirotaman.

Ini yang akan bisa dinikmati ketika sampai di Gua Grubug nanti!

Ini yang akan bisa dinikmati ketika sampai di Gua Grubug nanti!

Kali ini saya tidak molor seperti biasanya, saya sudah bersiap pagi hari buta dengan istri sekaligus partner traveling saya paling kece. Iya, kali ini saya akan menuju Kabupaten Gunung Kidul, untuk caving di Gua Jomblang. Yak benar, saya akan caving ke Gua Jomblang yang nyambung ke Gua Grubung dengan cahaya surge yang cantik itu! Entah sebenarnya cahaya surga itu seperti apa, karena saya sendiri belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di surga.

Pagi itu, dengan senyumnya yang merekah, Pak Parwoto akan mengantarkan kami ke Gua Jomblang. Dia adalah driver hotel yang selalu siap membantu dan datang dengan on time alias tidak telat. Dari prawirotaman, hotel tempat kami menginap, jarak Gua Jomblang memang lumayan jauh. Sekitar kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan mobil kalau lancar.

Jadi, meskipun saya biasanya lebih suka menggunakan sepeda motor ketika traveling, kali ini saya memilih untuk diantarkan. Karena tidak ingin tenaga banyak terkuras di perjalanan. Tenaga akan saya fokuskan untuk caving perdana di Gua Jomblang saja.

(Baca Juga : Tujuh Tempat Epik Menikmati Cahaya Di Sekitar Yogyakarta)

Bagian dalam Gua Jomblang terlihat ketika turun

Bagian dalam Gua Jomblang terlihat ketika turun

Gua Jomblang saat ini kian menggema namanya. Gua ini sebenarnya adalah sebagian dari banyak gua yang ada di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta. Kabarnya sih ada ratusan gua di area ini, tapi masih beberapa yang mendadak terkenal, yang salah satunya adalah Gua Jomblang ini.

Gua ini makin terkenal karena pernah dipakai didalam salah satu episode reality show bertema traveling, yaitu Amazing Race pada tahun 2011. Nggak heran lagi kenapa Gua Jomblang bisa menjadi populer seperti sekarang. Pun saya yakin, gua ini nggak cuma terkenal karena masuk ke dalam sebuah show tv. Akan tetapi juga karena tantangan yang ada di Gua ini.

Karena tidak mau kehabisan kesempatan, sebelumnya, pihak hotel sudah memesankan terlebih dahulu ke pihak pengelola. Untuk caving di Goa Jomblang, minimal adalah dua orang, dengan harga per-orangnya adalah IDR 450.000(*data 2015). Harga segitu terbilang murah, setelah semua pengalaman seru yang akan saya dapatkan nanti.

Beruntung lalu lintas cukup lancar, jadi saya bisa tiba tepat waktu sesuai perkiraan, sekitar jam 10 pagi WIB. Tepat menjelang waktu terbaik caving di Gua Jomblang yaitu jam 10-12 siang. Pada rentang waktu tersebut, adalah waktu terbaik untuk menikmati yang dikenal dengan “Cahaya Surga” di Luweng Grubug (Gua Grubug) yang berada di ujung Gua Jomblang. Logikanya sih, karena pada jam – jam tersebut matahari sedang berada di puncak, dan pancaran sinarnya sedang maksimal. Asal cuaca tidak berawan atau hujan deh.

(Baca Juga : Candi Prambanan Dan 6 Candi Lain Di Yogyakarta Yang Bisa Dikunjungi)

Briefing singkat sebelum turun ke bagian dalam gua

Briefing singkat sebelum turun ke bagian dalam gua

Persiapan sebelum turun

Persiapan sebelum turun

Ketika sampai disana, sudah ada dua orang turis dari Malaysia dan dua orang lagi datang bersamaan dengan kami. Dari logatnya, saya tebak mereka dari negara Eropa. Jadi total ada enam orang yang akan caving di Gua Jomblang hari itu. Pihak pengelola pun langsung mengajak kami untuk memilih sepatu dan helm yang akan dipakai selama caving.  Sepatu dan helm ini sangat penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan kami ketika caving nantinya.

Keamanan sangat diutamakan disini, jadi setiap peserta harus memakai perlengkapan keamanan seperti helm dan sepatu boot. Bahkan, sebelum turun secara vertikal ke Gua Jomblang, kami juga diberi penjelasan singkat tentang prosedur caving yang aman untuk pemula. Seperti bagaimana pemasangan dan pengecekan harness yang benar, hingga cara turun ke gua secara aman.

Beruntung untuk caver pemula seperti saya, masih begitu dimanjakan ketika turun menuju ke dasar gua. Saya tinggal duduk santai ketika tali yang menahan saya untuk turun sudah terpasang di harness. Pun itu tetap membuat jantung berdegup kencang ketika turun ke dalam Gua Jomblang yang kedalamannya 60 meter ini.

(Baca Juga : 17 Pantai Cantik Di Yogyakarta Untuk Referensi Liburanmu)

Jalur turun menuju bagian dalam Gua Jomblang

Jalur turun menuju bagian dalam Gua Jomblang

Untuk memasuki Gua Jomblang ini memerlukan teknik tali tunggal lalu turun perlahan secara vertical di sisi dinding gua. Ketika mulai turun, mungkin akan terasa sedikit panik. Namun, tak lama kemudian kepanikan tersebut akan berubah menjadi menyenangkan. Bahkan sesekali akan mencoba mengabadikan bagian dasar gua sambil perlahan turun.

Setelah semua sampai dengan selamat di dasar Gua Jomblang, pemandu kami mulai menjelaskan beberapa detail tentang gua ini. Mulai dari Gua Jomblang ini terbentuk karena runtuhnya tanah lapisan atas beserta vegetasinya hingga membentuk lubang menganga yang cukup besar. Sampai vegetasi yang ada di dasar gua ini sedikit berbeda dengan vegetasi yang berada diatas permukaan tanah.

Bisa dibilang, vegetasi yang ada dibagian dasar Gua Jomblang ini adalah hutan purba yang terbawa ketika lapisan tanah diatasnya ambles. Sebagai contohnya, pemandu kami memberi tahu sebuah tanaman yang mirip tumbuhan cabe, namun sebenarnya itu bukanlah cabe. Tetapi tumbuhan purba yang masih belum teridentifikasi jenisnya.

(Baca Juga : Panduan Liburan Ke Yogyakarta)

Jalanan sedikit licin, jadi harus hati-hati

Entah yang dia bilang benar atau tidak. Untuk memastikannya saya harus bertanya pada ahli biologi terlebih dahulu jika ingin tahu kebenarannya. Terlepas dari hal yang membingungkan ini, bagian dasar Gua Jomblang adalah hutan mini yang mengagumkan.

Adrenalin tidak hanya berhenti terpacu di Gua Jomblang saja. Di samping kiri tempat kami turun ada lubang raksasa, prediksi saya diameternya pasti lebih dari 3 meter. “Nanti kita akan melewati lubang itu, menyusurinya sekitar 300 Meter untuk menuju Luweng Grubug” Kata Pemandu saya sembari membagikan senter untuk penerangan selama menyusuri gua.

Saya amati, jalan menuju lubang yang menganga itu memang tidak terlalu susah. Jalan setapak memperlihatkan kalau jalur ini sering dilewati. Yang membuat saya sedikit khawatir adalah jalanan yang terlihat basah dan berlumpur. Salah memilih langkah sedikit saja, sudah pasti pantat akan berciuman dengan tanah karena terpeleset.

(Baca Juga : Ini Dia Peta Jalur Trans Jogja Lengkap Untuk Kalian Yang Ingin Menjelajah Yogyakarta Dengan Transportasi Umum!)

Batas keberadaan cahaya matahari dan bagian lorong dalam bumi

Batas keberadaan cahaya matahari dan bagian lorong dalam bumi

Memang menjelang akhir musim hujan, sepanjang rute penelusuran begitu berlumpur. Menurut saya, saya masih begitu beruntung karena tidak hujan. Jika saja hujan, sudah dipastikan kalau kondisinya akan lebih parah.

Dengan kondisi nggak terlalu basah saja saya sempat hampir terpeleset beberapa kali meski sudah waspada dalam memilih jalur yang hanya cukup dilewati untuk satu orang. Kewaspadaan dan pemilihan pijakan dengan hati – hati adalah suatu keharusan ketika caving dengan kondisi jalur seperti ini.

Semaking memasuki lorong bawah tanah Gua Jomblang, perlahan cahaya matahari mulai meredup. Di bagian tengah lorong yang menghubungkan Gua Jomblang dan Gua Grubug hanyalah ada sebuah kegelapan abadi. Sebuah sensasi yang baru kali ini saya rasakan, ada sedikit rasa takut, tapi adrenalin juga terpacu.

Di tengah lorong hanya ada kegelapan abadi

Di tengah lorong hanya ada kegelapan abadi

Di posisi ini, cahaya matahari sudah tidak terlihat lagi. Penerangan digantikan dengan dua senter yang dipegang oleh si pemandu dan salah seorang dari rombongan saya. Aneh, tapi nyata, ternyata kegelapan abadi ini tidak membuat saya takut. Saya malah merasa makin bersemangat sambil sesekali berhenti dan memencet shutter untuk mengabadikan momen yang luar biasa ini.

Setelah beberapa saat berjalan sambil terus waspada dan menyusuri lorong gelap, perlahan suara gemericik air mulai terdengar. Itu artinya kami sudah mendekati Gua Grubug yang terkenal dengan cahaya surga-nya. Di ujung lorong, secara samar cahaya matahari mulai terlihat lagi

“Oh, jadi ini Cahaya Surga” Gumam saya dalam hati, setelah saya melihat ray of light yang terpancar dari lubang yang tidak terlalu besar untuk pertama kalinya. Lubang itu kira – kira berada sekitar 90 meter diatas.

Akirnya bisa melihat apa yang dinamakan dengan cahaya surga

Akirnya bisa melihat apa yang dinamakan dengan cahaya surga

Ukurannya memang jauh lebih kecil dari pada lubang di Gua Jomblang, tetapi masih mungkin untuk dilewati dengan turun secara vertikal dari atas. Mungkin untuk yang professional, pasti akan memilih jalur ini dibanding turun lewat Gua Jomblang.

Tidak begitu jauh dari jatuhnya cahaya dari lubang diatas, ada stalagmit besar yang kemungkinan besar terbentuk dari tetesan air yang mengandung kapur dari atasnya. Disitu adalah tempat paling kece untuk mengabadikan moment dengan latar belakang “Cahaya Surga”.

(Baca Juga : Embung Nglanggeran Yogyakarta, Telaga Air Raksasa Di Gunung Api Purba Ini Memiliki Pesona Yang Aduhai)

Gua Jomblang, Hanya Untuk Para Petualang!

Gua Jomblang, Hanya Untuk Para Petualang!

Iya, tempat ini adalah ujung dari perjalanan para petualang yang suka memacu adrenalin. Dimulai dari Gua Jomblang, melewati lorong dengan kegelapan abadi, dan berakhir di tempat keberadaan cahaya surga. Saya pun mulai mengabadikan pemandangan yang mengagumkan ini dengan kamera saya. Mengingat sebentar lagi matahari mulai turun perlahan dari puncaknya.

Memang, tempat ini tiada duanya, perjalanannya pun hampir sempurna kecuali jalurnya yang sedikit berlumpur namun penuh dengan tantangan. Semua lelah, dan perjuangan terbayarkan dengan pemandangan yang ada. Sambil tersenyum ringan saya berkata dalam hati “Misi hari ini tercapai, mari lanjutkan misi berikutnya bertualang di Yogyakarta”.

Berbagi itu menyenangkan!

%d bloggers like this: