Salah satu tujuan utama di Kota Pangkalan Bun adalah untuk mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal dengan habitat orangutan. Namun, sebelum itu ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi sembari berkeliling di Pangkalan Bun, termasuk mengunjungi Istana Pangeran Mangkubumi dan menjelajahi Sungai Arut.
Selengkapnya silahkan simak dan baca tulisan di liburmulu.com ini.
Tentang Kota Pangkalan Bun
Pangkalan Bun adalah sebuah kota kecil yang terletak di Kalimantan Tengah, Indonesia.
Meski ukurannya tidak besar, kota ini menyimpan keindahan yang dapat memikat hati para pengunjung.
Salah satu tempat menarik di Pangkalan Bun adalah Istana Pangeran Mangkubumi.
Mengunjungi Istana Pangeran Mangkubumi
Istana Pangeran Mangkubumi adalah sebuah bangunan bersejarah yang menjadi peninggalan dari Kerajaan Kotawaringin Lama.
Bangunan ini terletak di jantung kota Pangkalan Bun dan menjadi tempat wisata yang populer di Kalimantan Tengah.
Ketika mengunjungi Istana Pangeran Mangkubumi, pengunjung akan disambut dengan arsitektur khas Jawa yang menawan, meski lokasinya berada di kalimantan.
Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan dan halaman yang dapat dinikmati oleh pengunjung.

Di dalamnya terdapat berbagai koleksi benda-benda bersejarah seperti senjata tradisional, pakaian adat, hingga lukisan-lukisan kuno.
Rumah Pangeran Adipati Mangkubumi secara administratif terletak di Desa Raja, Kota Pangkalan Bun, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Secara astronomis, rumah tersebut berada pada koordinat 10°19’-30” Lintang Selatan dan 110°25’-112°50’ Bujur Timur.
Rumah tradisional ini terdiri dari lima bangunan, yaitu bangunan induk berukuran 21×23 meter, bangunan penerima tamu (pendopo) berukuran 7×13 meter, bangunan tempat tinggal pembantu/pelayan berukuran 8×6,5 meter, bangunan depan berukuran 10×15 meter, dan bangunan dapur serta gudang berukuran 9×5 meter.

Denah bangunan berupa empat persegi panjang berukuran 25,70×20,75 meter, dengan panjang bangunan keseluruhan 95,67 meter, tinggi bangunan utama 8,20 meter, dan berkolong (panggung) ± 1,40 meter dari permukaan tanah, dan disangga oleh 30 buah tiang bulat dan 14 buah tiang segi empat yang langsung ditancapkan ke tanah.
Bangunan ini tidak memiliki hiasan, kecuali ukiran suluran pada bagian pintu.
Ukiran ini dicat dengan warna kuning keemasan, merah, dan hijau. Bangunan ini rentan terhadap cuaca seperti panas, hujan, angin, dan kelembapan.
Rumah Pangeran Adipati Mangkubumi ini adalah pengembangan dari bangunan tradisional limasan yang umumnya ditemukan di Jawa.
Bangunan induk dibuat dengan menambahkan ruang di bagian depan dan belakang ruang utama yang dibatasi dinding, dan atap ruang ini diteruskan dari atap bangunan utama.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan studi kelayakan, pemugaran fisik, penataan lingkungan, dan pembuatan kolam pada Program Pengelolaan Kekayaan Budaya tahun 1996/1997.

Selain itu, BPCB Samarinda telah melakukan kegiatan dokumentasi pada tahun 2010 dan kajian potensi pada tahun 2012.
Rumah Pangeran Adipati Mangkubumi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1850 sebagai rumah pribadi warisan Ratu Kuning (Ratu Adipati Mangkubumi I) yang berasal dari warisan orang tuanya, Pangeran Ratu Anum Kesumayuda.
Pangeran Adipati Mangkubumi bukanlah pejabat kerajaan, melainkan Pangeran Adipati Mangkubumi Kerajaan Kotawaringin yang memiliki dan menempati rumah tersebut.
Pada masa revolusi, rumah ini pernah digunakan sebagai tempat persembunyian pejuang ekspedisi I dari tahun 1946-1949.
Sungai Arut

Indonesia memiliki beragam tempat wisata yang mempesona, tak terkecuali Kota Pangkalan Bun di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Kota ini memiliki sejarah yang unik, di mana di masa kolonial Hindia Belanda, Pangkalan Bun menjadi pusat kerajaan Islam satu-satunya di Kalimantan Tengah.
Kota ini berawal dari tepian sungai Arut, sungai yang menjadi urat nadi yang membentuk Kabupaten Kotawaringin Barat.
Sungai Arut sendiri memiliki panjang sekitar 250 km dan merupakan anak Sungai Lamandau.
Sungai ini dapat diarungi ke hulu dengan speedboat yang digunakan oleh para wisatawan untuk mengunjungi daerah suku Dayak.
Menyusuri sungai ini menjadi aktivitas wisata yang sangat direkomendasikan saat berkunjung ke Pangkalan Bun.
Tidak hanya itu, Anda juga akan melihat sejumlah bangunan bersejarah yang berada di tepi sungai, seperti bekas bangunan peninggalan Belanda dan juga benteng pertahanan Kesultanan Banjar.
Sungai Arut tidak hanya memiliki keindahan alam yang memukau, namun juga menyimpan sejarah yang sangat berharga.
Aktivitas menyusuri sungai ini memungkinkan Anda untuk menyelami sejarah dan budaya masyarakat di sekitar sungai Arut.
Anda dapat mengunjungi beberapa desa tradisional di sekitar sungai yang masih mempertahankan adat dan budaya mereka, seperti desa Dayak dan desa Tanjung Puting.
Sungai Arut juga mempunyai kedalaman rata-rata 4 meter dan lebar rata-rata 100 meter.
Panjang Sungai Arut yang dapat digunakan untuk alur pelayaran sepanjang 190 km.
Namun, kawasan di sekitar DAS Arut mudah tergenang, berawa-rawa, dan merupakan daerah endapan serta bersifat organik dan asam.
Oleh karena itu, sebaiknya Anda mengikuti instruksi dari pemandu wisata atau penjaga sungai saat menyusuri sungai ini.
Kunjungan Anda ke Kota Pangkalan Bun tidak lengkap jika tidak menyusuri sungai Arut.
Menyusuri sungai ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan karena keindahan alamnya yang masih alami, sejarahnya yang kaya, serta budaya masyarakat sekitar yang sangat menarik untuk dipelajari.
Jadi, jangan lupa untuk mengajak keluarga dan teman-teman Anda saat berkunjung ke Pangkalan Bun dan menikmati senja di sepanjang sungai Arut.
Tempat Wisata Di Pangkalan Bun Lainnya
Pangkalan Bun juga memiliki berbagai tempat wisata yang menarik lainnya untuk dikunjungi.
Berikut adalah beberapa tempat wisata di Pangkalan Bun yang bisa menjadi pilihan Anda untuk berlibur.
Tanjung Puting National Park
Taman Nasional ini terkenal dengan populasi orangutan liar yang cukup banyak, selain itu juga terdapat berbagai jenis flora dan fauna yang menjadi habitat di dalamnya.
Pengunjung dapat melihat orangutan liar dan satwa liar lainnya seperti bekantan, monyet, ular, kadal, burung, dan lain-lain di sepanjang sungai Sekonyer yang dapat